JAKARTA - Air putih merupakan elemen paling mendasar dalam menjaga keseimbangan tubuh manusia.
Tanpa asupan cairan yang cukup, berbagai fungsi vital tubuh tidak dapat berjalan optimal. Air berperan dalam mengangkut nutrisi ke seluruh tubuh, membantu proses pencernaan, melumasi sendi, menjaga fungsi otak, hingga mendukung sistem kekebalan tubuh agar tetap bekerja dengan baik.
Kendati manfaat minum air putih sudah tidak diragukan lagi, masih banyak perdebatan di masyarakat mengenai suhu air yang sebaiknya dikonsumsi.
Sebagian orang merasa lebih segar setelah minum air dingin, sementara yang lain justru memilih air hangat atau suhu ruang karena dianggap lebih ramah bagi pencernaan. Pertanyaan pun muncul, apakah suhu air benar-benar berpengaruh terhadap kesehatan?
Menurut Mayo Clinic, kebutuhan cairan orang dewasa umumnya berada di kisaran 2,7 hingga 3,7 liter per hari. Jumlah tersebut dapat berbeda-beda tergantung usia, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, hingga faktor cuaca. Namun, selain jumlah air, suhu air minum juga kerap menjadi topik diskusi yang menarik perhatian.
Para pakar kesehatan menegaskan bahwa hingga kini tidak ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan bahwa satu suhu air lebih unggul dibandingkan suhu lainnya. Fokus utama tetap pada kecukupan cairan harian.
“Tidak ada bukti pasti bahwa air dingin atau air panas lebih baik bagi tubuh,” ujar Dr. Louise Wang, gastroenterology dari Yale School of Medicine.
Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Dr. David Leiman, gastroenterolog dari Duke University School of Medicine. “Menjaga tubuh tetap terhidrasi jauh lebih penting dibanding suhu air yang diminum,” katanya.
Sensasi Menyegarkan Dari Air Dingin
Air dingin sering menjadi pilihan favorit, terutama saat cuaca panas atau setelah beraktivitas fisik. Sensasi dingin yang dihasilkan mampu memberikan rasa segar dan membantu menurunkan suhu tubuh dengan cepat. Tak heran jika banyak orang secara refleks memilih air es setelah berolahraga atau saat merasa kelelahan.
Namun, di balik sensasi segarnya, minum air yang terlalu dingin juga memiliki potensi efek samping. “Air yang sangat dingin dapat menyebabkan vasokonstriksi, di mana pembuluh darah di tubuh kita mulai menyempit dan menjadi sedikit lebih kencang,” kata Leiman.
Penyempitan pembuluh darah ini dapat membuat kerja lambung melambat untuk sementara waktu. Pada sebagian orang, kondisi tersebut bisa memicu rasa tidak nyaman di perut atau memperburuk keluhan asam lambung. Meski begitu, efek ini biasanya bersifat sementara dan tidak berbahaya bagi orang sehat.
Sebuah studi di Jepang pada tahun 2020 yang meneliti pengaruh suhu air terhadap motilitas lambung dan asupan energi pada pria muda sehat menemukan bahwa konsumsi air sangat dingin dapat menurunkan rasa lapar sementara. Namun, studi tersebut belum membuktikan adanya manfaat kesehatan jangka panjang dari kebiasaan minum air dingin.
Secara medis, hingga saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa minum air dingin berbahaya bagi orang sehat. Efeknya cenderung individual, tergantung pada kondisi tubuh masing-masing orang.
Air Hangat Dan Efek Menenangkan Pencernaan
Di sisi lain, air hangat sering dianggap lebih ramah bagi sistem pencernaan. Banyak orang memilih minum air hangat saat bangun tidur, ketika sedang tidak enak badan, atau saat mengalami gangguan pencernaan seperti nyeri ulu hati.
Menurut Dr. Wang, air hangat memang sering memberikan efek menenangkan pada saluran cerna. “Mereka mungkin lebih menyukai air hangat untuk menenangkan saluran pencernaan mereka atau (karena) terasa lebih menyehatkan saat mereka sedang tidak enak badan,” ujarnya.
Orang yang mengalami kesulitan menelan atau refluks asam lambung juga kerap merasa lebih nyaman saat minum air hangat dibandingkan air dingin. Suhu hangat dianggap tidak memicu kontraksi lambung secara berlebihan.
Namun, apakah air hangat benar-benar lebih unggul secara medis? Leiman menegaskan bahwa belum ada kesimpulan ilmiah yang benar-benar kuat. “Tidak ada konsensus mutlak atau studi penting yang dapat kita tunjuk, tetapi ada beberapa penelitian kecil yang menunjukkan bahwa minum air hangat atau bahkan air panas dapat mempercepat motilitas dan mengurangi gejala-gejala tersebut,” kata Leiman.
Artinya, manfaat air hangat lebih bersifat subjektif dan berdasarkan kenyamanan individu, bukan karena keunggulan fisiologis yang mutlak.
Air Dingin Versus Air Hangat Dalam Proses Hidrasi
Secara fisiologis, air yang masuk ke dalam tubuh akan menyesuaikan dengan suhu tubuh dalam waktu relatif singkat. Setelah diserap di usus kecil dan masuk ke aliran darah, suhu air akan berada pada kisaran suhu tubuh dalam hitungan menit hingga jam.
Apakah Anda memilih air dingin, air hangat, atau air suhu ruang, semuanya tetap memberikan efek hidrasi yang sama. “Suhu air seharusnya tidak memengaruhi kemampuan untuk menghidrasi,” kata Leiman.
Wang juga menekankan bahwa faktor terpenting dalam hidrasi adalah jumlah air yang dikonsumsi. Ia menyarankan untuk minum sekitar dua liter air per hari atau menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh, dengan indikator sederhana berupa rasa haus dan warna urine yang kuning pucat, bukan gelap.
Suhu Air Yang Aman Untuk Tubuh
Pertanyaan berikutnya adalah, berapa suhu air yang paling aman untuk dikonsumsi? Wang menjelaskan bahwa yang terpenting bukanlah suhu, melainkan jumlah cairan yang masuk ke tubuh. Namun, para ahli sepakat bahwa suhu ekstrem sebaiknya dihindari.
“Cairan yang sangat, sangat dingin atau sangat, sangat panas mungkin memiliki dampak tertentu... tetapi sekali lagi, ini relatif singkat,” ujar Leiman.
Minum air yang terlalu panas berisiko melukai jaringan mulut dan kerongkongan, sementara air yang terlalu dingin dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada sebagian orang. Oleh karena itu, memilih suhu yang nyaman bagi tubuh masing-masing menjadi pilihan paling bijak.
Kunci Utama Tetap Pada Pola Hidup Sehat
Pada akhirnya, perdebatan antara air dingin dan air hangat kembali pada preferensi pribadi. Tidak ada suhu air yang terbukti paling sehat secara mutlak. Yang jauh lebih penting adalah memastikan tubuh mendapatkan asupan cairan yang cukup setiap hari.
Selain minum air putih, pola makan sehat dan seimbang juga berperan besar dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Air hanyalah salah satu komponen dari gaya hidup sehat yang perlu dijalani secara konsisten.
Dengan memahami kebutuhan tubuh sendiri dan mendengarkan sinyal yang diberikan, Anda dapat menentukan suhu air yang paling nyaman tanpa perlu khawatir soal dampak kesehatan jangka panjang.